Gunung Everest: Kuburan Abadi Para Pendaki, Mengapa Ratusan Jenazah Dibiarkan Membeku?

waktu baca 2 menit
Senin, 7 Jul 2025 16:40 202 IDNKendari.com

Theasianet.com, Jakarta-Gunung Everest, puncak tertinggi di dunia dengan ketinggian menjulang 8.848 meter di perbatasan Nepal dan Tibet, Tiongkok, adalah magnet bagi para pendaki. Namun, di balik keagungannya, gunung ini menyimpan sisi kelam: ratusan jenazah pendaki yang tewas membeku dan tak pernah dipulangkan. Hingga Desember 2024, lebih dari 335 orang dilaporkan tewas saat menaklukkan gunung impian ini, baik saat mencapai puncak maupun dalam perjalanan turun.

Perjalanan menuju puncak Everest bukanlah perkara mudah. Butuh waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, untuk mempersiapkan diri secara fisik dan mental. Namun, tak ada jaminan kesuksesan. Para pendaki harus siap bertaruh nyawa dalam perjalanan berhari-hari menantang maut.

Angka kematian di Everest diperkirakan mencapai sekitar 1% dari total pendaki. Penyebab paling umum adalah penyakit ketinggian akut yang ditandai dengan pusing, muntah, dan sakit kepala hebat. Namun, faktor lain seperti pengalaman pendaki, rute yang dipilih, dan kondisi cuaca ekstrem juga sangat memengaruhi risiko kematian.

Mengapa Jenazah Dibiarkan Begitu Saja?

Everest telah lama dijuluki sebagai kuburan abadi bagi mereka yang takluk pada kondisi alam yang ganas atau mengalami kecelakaan fatal. Alan Arnette, seorang pelatih pendaki gunung yang berhasil mencapai puncak Everest pada 2014, menjelaskan bahwa menjadi hal lumrah untuk meninggalkan rekan yang terluka parah atau meninggal jika penyelamatan tidak memungkinkan.

“Melihat mayat di Gunung Everest sama saja dengan melihat kecelakaan mobil yang mengerikan,” ujar Arnette seperti dikutip CNN. “Tubuh mereka akan membeku di gunung.”

Proses evakuasi jenazah dari Everest adalah tantangan besar yang sangat berbahaya dan mematikan. Biayanya pun fantastis, mencapai puluhan ribu dolar, bahkan bisa menyentuh angka US$70.000 (sekitar Rp1 miliar lebih) untuk satu jenazah. Risiko yang mengintai tak sebanding dengan biaya, terbukti pada tahun 1984 ketika dua pendaki Nepal tewas saat mencoba mengevakuasi jenazah.

Sebagian besar kematian di Everest disebabkan oleh longsor atau terjatuh, yang semakin menyulitkan upaya pemulangan jenazah. Inilah alasan utama mengapa banyak jenazah dibiarkan begitu saja, menjadi bagian dari lanskap beku Everest, pengingat abadi akan bahaya yang mengintai di puncak dunia.(Red)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA