Pesona Gua Liang Kabori Pikat Kepala BI Sultra, Dorong Wisata dan Tenun Lokal Go Internasional

waktu baca 2 menit
Minggu, 3 Mei 2026 01:18 62 IDNKendari.com

IDNK, Muna – Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Tenggara (Sultra), Edwin Permadi, mengungkapkan kekagumannya terhadap kekayaan wisata dan budaya di Kabupaten Muna. Salah satu destinasi yang mencuri perhatiannya adalah Gua Liang Kabori di Desa Liang Kabori, Kecamatan Lohia.

Situs purbakala tersebut dikenal menyimpan lukisan prasejarah yang disebut-sebut sebagai salah satu yang tertua di dunia. Edwin menilai, potensi wisata di kawasan ini sangat besar dan mampu menarik minat wisatawan, termasuk dari mancanegara.

“Ini bukan sekadar tempat wisata, tapi bagian dari kebudayaan yang harus kita lestarikan. Perlu didorong dengan berbagai kegiatan dan event agar semakin ramai dikunjungi,” ujar Edwin.

Ia mengaku terkesan saat pertama kali mengunjungi langsung Gua Liang Kabori. Selama ini, ia hanya menyaksikan keindahannya melalui televisi dan media cetak.

“Rasanya tidak lengkap kalau hanya melihat dari TV atau koran. Begitu datang langsung, ini luar biasa sekali,” tuturnya.

Selain Gua Liang Kabori, Edwin juga menyoroti sejumlah destinasi lain di Muna yang tak kalah menarik, seperti Puncak Wakila dan kawasan Danau Napabale yang memiliki keunikan alam, termasuk danau ubur-ubur yang menjadi daya tarik tersendiri.

Tak hanya wisata alam dan sejarah, perhatian juga diberikan pada kekayaan budaya lokal. Ia mengaku terpikat dengan keindahan Tenun Masalili yang memiliki motif khas dan bernilai seni tinggi.

“Saya ke sini juga karena kangen dengan kain-kain Masalili. Ini luar biasa dan sangat potensial untuk dikembangkan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Bank Indonesia Sultra terus berperan aktif dalam membina pelaku UMKM, termasuk para perajin tenun, agar mampu meningkatkan kualitas produk dan memperluas pasar hingga ke tingkat nasional dan internasional.

Salah satu upaya yang dilakukan yakni melalui penyelenggaraan festival dan lomba desain berbasis tenun lokal. Karya-karya terbaik nantinya akan dipromosikan ke berbagai ajang, mulai dari tingkat kawasan timur Indonesia di Mataram hingga ke tingkat nasional di Jakarta dan Bali, bahkan berpeluang menembus panggung internasional.

“Kami ingin tenun Masalili ini bisa naik kelas, tidak hanya dikenal di daerah, tapi juga di tingkat nasional hingga internasional,” tegasnya.

Kunjungan tersebut menjadi bagian dari momen libur panjang yang dimanfaatkan Edwin untuk menikmati langsung pesona wisata Sulawesi Tenggara, sekaligus memperkuat komitmen dalam mendorong pelestarian budaya dan pengembangan ekonomi kreatif berbasis lokal.(Red)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA