Lubang besar diduga aktivitas tambang nikel PT Wijaya Inti Nusantara (WIN) di Desa Torobulu, Kecamatan Laeya, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel). IDNK, Kendari – Rumah milik pasangan Made (66) dan Nurmiati (49) mengalami kerusakan diduga akibat aktivitas tambang nikel PT Wijaya Inti Nusantara (WIN) di Desa Torobulu, Kecamatan Laeya, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel).
Retakan dengan garis vertikal terjadi di sisi kiri dan kanan rumah Made. Kerusakan ini terjadi sekitar 2 pekan lalu, kala itu PT WIN melakukan operasi penambangan di samping rumah pria paruh baya itu.
Selain itu, rumah seluas 5×7 meter itu terancam hilang akibat pergerakan longsor yang mulai mendekat, bahkan bibir longsoran hanya berjarak sekitar 15 meter dari kediaman Made.
Longsoran terjadi akibat bekas galian tambang diperkirakan sedalam 50 meter yang ditinggalkan PT WIN terus tergerus. Kandang ayam milik Made sudah lebih dulu ambruk akibat longsor.
Made mengaku, kondisi ini membuat dirinya takut longsor datang kapan saja. Rumah yang dihuni istri dan tiga anaknya terancam hilang akibat longsoran lubang tambang. “Jelas khawatir (rumah) roboh,” ujar Made saat ditemui di kediamannya.
Istri Made, Nurmiati mengaku tak bisa tidur nyenyak selama dua pekan terakhir, bahkan menderita sakit kepala setelah khawatir rumahnya sewaktu-waktu bisa terbawa longsor.
“Tidak nyenyak tidur, suka sakit kepala, apalagi kalau hujan tidak bisa tidur, takut tiba-tiba longsor,” ungkap Nurmiati. Ditambah lagi getaran mobil dump truk 12 roda yang mengitari rumahnya dari pagi hingga malam, membuat Nurmiati makin khawatir dan berpikir untuk mengungsi.
Aktivitas penambangan PT WIN di samping hingga belakang rumah Made berlangsung sejak Januari 2026 hingga pertengahan April 2026. Lubang tambang ditnggal dalam kondisi menganga.
Longsor terjadi pertama kali pada (22/4/2026), beberapa pohon pisang terbawa material. Beberapa hari berikutnya, giliran kandang ayam Made ambruk akibat longsor.
Tak tinggal diam, ia mendatangi kantor PT WIN untuk mendesak tanggung jawab segera. Namun, tiga kali ia bolak-balik ke kantor PT WIN, Made hanya dijanji akan dikunjungi oleh pihak perusahaan.
Awalnya, ia meminta perusahaan untuk mengganti rugi tanaman, kandang hingga relokasi rumahnya. Namun, karena tak digubris PT WIN, Made kini berubah pikiran dan menolak bernegosiasi dengan perusahaan tambang itu.
“Dulu saya mau, tapi sekarang tidak mi. Karena sudah tiga kali saya ke kantor PT WIN dijanji mau dipindahkan tapi tidak ada, hanya cerita ji,” tandasnya.
Direktur Utama PT WIN, Muhammad Nur Iman Djalani tak merespon pesan hingga telepon WhatsApp jurnalis kendarihariini, saat dihubungi pada Kamis (7/5/2026). Hingga berita ini diterbitkan, belum ada tanggapan resmi dari PT WIN.(Red)
Tidak ada komentar