IDNK, Kolaka – Aliansi Pemuda Kecamatan Watubangga (APKW) melakukan audiensi dengan pihak Manajemen PLN ULP Kolaka guna mempertanyakan skema pemadaman listrik bergilir yang dinilai tidak proporsional di wilayah selatan Kabupaten Kolaka.

Langkah ini diambil APKW untuk menyuarakan keresahan masyarakat di tiga kecamatan, yakni Watubangga, Polinggona, dan Toari. Masyarakat mempertanyakan alasan pemadaman selalu melanda wilayah mereka secara bergilir, sementara wilayah Kecamatan Tanggetada sama sekali tidak pernah mendapatkan pemadaman listrik.

Dalam pertemuan tersebut, APKW diwakili oleh Ketua Dewan Penasihat Aliansi Rahmad Hidayat, Ketua Umum Aliansi Pemuda Haikal Syam, Ketua KNPI Watubangga Adnan, serta perwakilan Ormas Tamalaki Anoa Mekongga Distrik Watubangga, Bahtiar dan Sulyamin.

Ketua Umum Aliansi Pemuda, Haikal Syam, menegaskan bahwa kehadiran mereka membawa beban moral dan aspirasi warga yang merasa dirugikan akibat pemadaman yang terkesan tebang pilih.

Menanggapi hal tersebut, Manajer ULP PLN Kolaka, Tri Cahyono, menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada seluruh masyarakat atas kondisi pemadaman yang terjadi. Ia menegaskan bahwa pihak PLN pada dasarnya terus berupaya maksimal agar pemadaman tidak perlu dilakukan.

“Kondisi ini terjadi karena situasi mendesak, di mana suplai listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di wilayah Sulselrabar mengalami penurunan suplai. Hal ini mengharuskan kami melakukan penyesuaian penggunaan daya demi menjaga keamanan sistem dan jaringan kelistrikan secara keseluruhan,” terang Tri Cahyono.

Terkait sorotan mengenai tiga kecamatan yang selalu terkena dampak pemadaman, Tri menjelaskan adanya faktor teknis pada konfigurasi jaringan. Terdapat section pengatur jaringan di wilayah sebelum Watubangga yang dimanfaatkan untuk mengatur pelepasan daya.

Menurutnya, jumlah kebutuhan daya yang perlu dilepas untuk penyesuaian sudah mencukupi hanya dengan memadamkan sementara di wilayah tiga kecamatan tersebut.

Sementara itu, tidak dilakukannya pemadaman di Kecamatan Tanggetada dikarenakan adanya satu objek vital, yaitu Bandara Sangia Nibandera.

“Pasokan listrik di wilayah Tanggetada harus dioptimalkan demi menunjang keselamatan penerbangan di bandara tersebut,” tambahnya.

Tri Cahyono juga menegaskan bahwa PLN senantiasa bekerja 24 jam penuh untuk melakukan pengaturan seproporsional mungkin.

Pihaknya terus memantau perkembangan kondisi pembangkit agar pemadaman ini bisa secepatnya teratasi dan pasokan kembali normal, kecuali bila terjadi gangguan teknis yang tidak terduga.

Terakhir manajer ULP PLN Kolaka ini menambahkan bahwa jika PLTD Kolaka telah tuntas diperbaiki dimana kami dapat informasi hari senin pekan depan sudah tuntas, kita bisa mendapatkan penambahan daya sejumlah 25 MW mudah-mudahan itu bisa sedikit menambah kebutuhan daya dan pemadaman bisa tidak dilakukan tiap hari.

Merespons penjelasan dari manajemen PLN, Ketua Dewan Penasihat Aliansi, Rahmad Hidayat, menyampaikan apresiasinya atas ruang diskusi yang diberikan, sekaligus memberikan catatan penting bagi pelayanan PLN ke depan.

“Mewakili kawan-kawan Aliansi serta seluruh masyarakat, kami mengucapkan terima kasih kepada pihak PLN yang telah menerima APKW. Selanjutnya, kami berharap bahwa ULP PLN Kolaka senantiasa berusaha optimal untuk memperbaiki skema pemadaman dan mengaturnya secara proporsional agar lebih adil dalam melakukan pelayanan kepada masyarakat,” ujar Rahmad.

Lebih lanjut, Rahmad juga menuntut keterbukaan informasi yang berkelanjutan dari pihak PLN terkait progres penormalan kelistrikan.

“Selanjutnya kami menunggu informasi dan update terbaru terkait perbaikan PLTD yang ada di Kolaka dan suplai daya dari PLTA yang ada, supaya kami dapat mengetahui secara pasti sampai kapan kondisi ini akan berlangsung,” pungkasnya.