BI Catat Pertumbuhan Ekonomi Sultra 2025 Capai 5,79 Persen, Inflasi Tetap Terkendali

waktu baca 3 menit
Senin, 9 Feb 2026 22:37 66 IDNKendari.com

IDNK, KENDARI — Perekonomian Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) menunjukkan kinerja yang solid sepanjang tahun 2025. Berdasarkan data Bank Indonesia, ekonomi Sultra tumbuh sebesar 5,79 persen secara tahunan (year on year/yoy), meningkat dibandingkan tahun 2024 yang tercatat 5,40 persen (yoy) dan melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,11 persen (yoy).

Pada Triwulan IV 2025, ekonomi Sultra juga tumbuh sebesar 5,94 persen (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dari sisi penawaran, pertumbuhan tertinggi dicatatkan oleh Lapangan Usaha Jasa Keuangan yang tumbuh hingga 17,27 persen (yoy), didorong oleh ekspansi kredit dan meningkatnya transaksi digital.

Selain itu, sektor Akomodasi dan Makan Minum turut mengalami pertumbuhan signifikan seiring implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta pelaksanaan berbagai ajang nasional di daerah. Pertumbuhan juga diperkuat oleh Lapangan Usaha Informasi dan Komunikasi akibat meningkatnya aktivitas digital masyarakat. Namun demikian, kinerja ekonomi masih tertahan oleh pertumbuhan yang relatif lebih rendah pada sektor Pengadaan Air serta Administrasi Pemerintahan.

Dari sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi Sultra ditopang oleh Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) melalui pembangunan kawasan industri dan fasilitas pendidikan, serta Konsumsi Rumah Tangga yang tetap terjaga. Sementara itu, meskipun Konsumsi Pemerintah mencatat pertumbuhan positif, kinerja ekspor besi baja yang mengalami kontraksi serta impor bahan bakar minyak (BBM) turut menahan laju pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Sementara itu, Indeks Harga Konsumen (IHK) Sulawesi Tenggara pada Januari 2026 mencatat inflasi sebesar 0,69 persen secara bulanan (month to month/mtm), lebih tinggi dibandingkan inflasi Desember 2025 yang sebesar 0,22 persen (mtm). Capaian tersebut juga berbeda arah dengan inflasi nasional yang tercatat mengalami deflasi sebesar 0,15 persen (mtm).

Komoditas utama penyumbang inflasi di Sultra antara lain emas perhiasan serta beberapa jenis ikan, seperti ikan cakalang, ikan lajang, ikan kembung, dan ikan selar. Kenaikan harga emas perhiasan dipengaruhi oleh tekanan harga emas global seiring meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan instabilitas geopolitik, yang mendorong permintaan terhadap aset safe haven. Sementara itu, kenaikan harga ikan disebabkan oleh menurunnya aktivitas melaut nelayan akibat cuaca buruk dan gelombang laut yang mencapai lebih dari 1,5 meter.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Tenggara, Edwin Permadi, mengatakan pihaknya bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus memperkuat sinergi dan kolaborasi dalam pengendalian inflasi, khususnya menjelang Ramadan dan Idul Fitri.

“Pada Februari 2026, Bank Indonesia memberikan dukungan melalui fasilitasi Gerakan Pangan Murah (GPM) dan distribusi pangan bekerja sama dengan delapan TPID di wilayah Sulawesi Tenggara,” ujar Edwin.

Delapan daerah tersebut meliputi Provinsi Sulawesi Tenggara, Kabupaten Buton Selatan, Buton Utara, Kota Kendari, Wakatobi, Muna, Buton, dan Kolaka. Selain itu, Bank Indonesia juga mendorong percepatan pemanfaatan Kios Pangan bersama Dinas Ketahanan Pangan Kota Kendari.

Dalam rangka menjaga kelancaran transaksi masyarakat selama Ramadan dan Idul Fitri, Bank Indonesia juga menyelenggarakan Program SERAMBI (Semarak Rupiah Ramadan dan Berkah Idulfitri) 2026. Program ini merupakan rangkaian kegiatan pemenuhan kebutuhan uang rupiah melalui layanan kas keliling, loket perbankan, serta penukaran bersama yang terintegrasi dengan sistem digital PINTAR.

Untuk mendukung kebutuhan masyarakat, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Tenggara menyiapkan uang rupiah layak edar sebesar Rp1,2 triliun selama periode Ramadan dan Idul Fitri 2026. Pada tahun ini, batas maksimal penukaran per orang ditingkatkan menjadi Rp5,3 juta atau naik 23,2 persen dibandingkan tahun 2025 sebesar Rp4,3 juta.

Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tenggara juga didukung oleh pesatnya perkembangan transaksi non-tunai, khususnya melalui pemanfaatan QRIS. Pada Triwulan IV 2025, jumlah pengguna baru QRIS bertambah sebanyak 31.723 pengguna, sehingga total pengguna mencapai 303.254 atau tumbuh 12 persen (yoy).

Selain itu, jumlah merchant QRIS meningkat signifikan sebesar 37,65 persen (yoy) menjadi 239.463 merchant. Volume transaksi QRIS pada Triwulan IV 2025 tercatat sebanyak 4.364.680 transaksi, melonjak 184,61 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Bank Indonesia optimistis tren positif ini akan terus berlanjut seiring meluasnya akseptasi QRIS di Sulawesi Tenggara.(red)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA