BI Sultra Bersama TPID Terus Menjaga Inflasi Hingga Tetap Berada Dalam Rentang Sasaran

waktu baca 2 menit
Sabtu, 10 Jan 2026 14:26 518 IDNKendari.com

IDNKendari.com, Kendari–Inflasi Sulawesi Tenggara (Sultra) pada Desember 2025 tercatat sebesar 0,22% secara bulanan (mtm) dan 2,86% secara tahunan (yoy), tetap berada dalam rentang sasaran. Angka ini lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 0,64% (mtm) dan 2,92% (yoy).

Dikutip melalui laman resmi Bank Indonesia Sulawesi Tenggara, Kinerja inflasi yang stabil tersebut dicapai melalui sinergi upaya pengendalian harga dan ketersediaan pasokan komoditas strategis.

Bank Indonesia Sulawesi Tenggara bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) terus memperkuat koordinasi melalui serangkaian program, antara lain Gerakan Pangan Murah, Sidak Pasar, Fasilitasi Distribusi Pangan, pengembangan klaster komoditas strategis, serta komunikasi efektif kepada masyarakat.

Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi bulanan Sultra didorong oleh kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau serta kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya. Namun, tekanan inflasi berhasil ditekan oleh deflasi pada kelompok Transportasi.

Perkembangan inflasi di beberapa daerah utama Sultra menunjukkan variasi. Kota Kendari mencatatkan inflasi 0,26% (mtm) dan 2,96% (yoy); Kabupaten Konawe 0,81% (mtm) dan 2,66% (yoy); Kabupaten Kolaka 0,13% (mtm) dan 3,45% (yoy); serta Kota Baubau yang mengalami deflasi -0,44% (mtm) dengan inflasi tahunan 2,07% (yoy).

Untuk menjaga keterjangkauan harga, dilakukan berbagai langkah seperti operasionalisasi Kios Pangan Buna De’ela Provinsi Sultra, 115 kios pangan di setiap kelurahan Kendari, lebih dari 387 kegiatan pasar murah, serta Gerakan Pangan Murah serentak di 17 kabupaten/kota yang dilakukan bersama pemerintah daerah dan instansi terkait. Selain itu, juga dilakukan Sidak Pasar oleh TPID se-Sultra.

Dalam upaya menjamin ketersediaan pasokan, tercatat panen raya padi beras dengan benih unggul seluas 135 Ha di Desa Matanggonawe, Konawe Utara; panen bawang merah oleh kelompok tani Rijau Bintara di Bombana dengan metode tanam biji dan teknologi irigasi digital; serta panen perdana budidaya ikan air tawar teknologi bioflok mencapai 180 kg di Baruga, Kendari.

Kelancaran distribusi komoditas didukung melalui penandatanganan Kesepakatan Antar Daerah (KAD) antar berbagai kabupaten/kota, distribusi 1800 liter Minyakita di 19 kios pasar Wameo, Baubau, serta kerja sama distribusi cabai antara LM3 Al-Irsyad Konawe Selatan dan Hebitren Kendari. Pihak terkait juga melakukan sidak terhadap distributor Gas LPG dan Minyakita.

Komunikasi efektif dilakukan melalui 19 rapat tingkat tinggi di tingkat provinsi dan kabupaten/kota, kampanye “Belanja Bijak”, podcast pengendalian inflasi bersama RRI, serta koordinasi rilis informasi melalui portal BEKONSULTRA. Selain itu, juga dilakukan penghargaan CB TPID, penguatan kapasitas enumerator, dan studi kaji bersama TPID Bali.

Top 5 komoditas penyumbang inflasi bulanan adalah Emas Perhiasan (andil 0,09%), Cabai Rawit (0,07%), Beras (0,07%), Bawang Merah (0,06%), dan Daging Ayam Ras (0,04%). Sementara itu, komoditas yang memberikan kontribusi deflasi antara lain Ikan Layang (-0,04%), Ikan Kembung (-0,04%), Ikan Teri (-0,03%), Angkutan Udara (-0,02%), dan Ikan Selar/Tude (-0,01%).(red)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA