Keluarga Korban Pembunuhan Anty Inawade di Kendari Tuntut Autopsi dan Pelaku Segera Diungkap

waktu baca 3 menit
Kamis, 10 Jul 2025 21:34 460 IDNKendari.com

Theasianet.com, Kendari-Sepuluh hari berlalu sejak pembunuhan tragis yang menimpa Anty Inawade (Juniati Jie) di kediamannya di Jalan H. Supu Yusuf, Kelurahan Korumba, Kecamatan Mandonga, Kota Kendari, pada 1 Juli 2025.

Keluarga besar Inawade, melalui keponakan tertua korban, Ivonne Inawade, masih setia menanti titik terang dari penyelidikan yang dilakukan Polsek Mandonga, Polresta Kendari, dan Polda Sultra. Sorotan tajam kini mengarah pada keputusan untuk tidak melakukan autopsi, yang dinilai keluarga sangat krusial dalam mengungkap tabir di balik kasus pembunuhan disertai pemerkosaan ini.

Ivonne Inawade mengungkapkan kegelisahan keluarga yang terus menanti kabar dari pihak kepolisian. “Ini sudah hari kesepuluh kami dengan deg-degan menunggu kabar dari kepolisian,” ujarnya kepada theasianet.com melalui sambungan telepon, (10/7/2025).

Ia mengakui kesulitan dalam penyelidikan karena minimnya tanda-tanda pencurian atau perampokan di lokasi kejadian.

Namun, Ivonne sangat menyayangkan keputusan untuk tidak melakukan autopsi pada jenazah bibinya. Ia menjelaskan bahwa saat jenazah ditemukan, suami korban hanya memilih visum dan bukan autopsi. Ivonne juga mendapatkan informasi dari kakaknya, yang menyebutkan bahwa pihak kepolisian menyarankan visum saja dengan alasan luka sayatan/gorok di leher sudah jelas sebagai penyebab kematian, ditambah indikasi pemerkosaan.

“Nah, yang saya ingin tanyakan adalah penyebab kematian almarhumah, apakah ada tanda-tanda perlawanan atau tidak? Karena ini akan menyangkut analisis pelaku menjurus ke orang dekat atau bukan, dan apakah pemerkosaan terjadi setelah pembunuhan atau sebaliknya,” tegas Ivonne.

Ia merasa sangat menyesal mengapa autopsi tidak dilakukan, padahal ini adalah kasus pembunuhan serius dan sangat keji.

Menurut Ivonne, autopsi sangat dibutuhkan untuk menganalisis detail luka, apakah disebabkan oleh benda tajam atau tumpul, seberapa parah luka tersebut, dan apakah ada tanda perlawanan dari korban.

“Jika hanya ada satu luka sayatan, itu bisa mengindikasikan bahwa korban adalah target yang direncanakan. Autopsi sangat dibutuhkan, bukan hanya jika korban meninggal karena diracun,” jelas Putri Indonesia pertama dari Sultra yang juga aktif sebagai artis FTV Nasional ini.

Ia juga menegaskan bahwa berdasarkan KUHAP, keluarga tidak seharusnya menolak autopsi karena hal itu penting untuk membaca dan menentukan penyebab kematian, cara pembunuhan, dan bahkan dapat mengungkap pelaku dari sidik jari yang tertinggal di tubuh korban.

Ivonne juga telah mengecek langsung ke Unit Reskrimum Polresta Kendari dan mendapatkan informasi bahwa beberapa saksi telah diperiksa, namun dipulangkan karena kurangnya bukti. Minimnya CCTV di lokasi kejadian dan kondisi rumah korban yang tinggal sendirian, dikelilingi kebun kosong dan rawa-rawa, menjadikan rumah tersebut rawan kejahatan. Satu-satunya petunjuk krusial yang saat ini diandalkan adalah bukti DNA sperma pelaku yang ditemukan di tubuh korban dan bukti sidik jari yang masih menunggu hasil uji lab dari PUSLABFOR Polda Sulsel.

“Kinerja polisi benar-benar sedang diuji, mereka bekerja keras siang malam sampai subuh untuk terus mencari informasi dan bukti sebanyak-banyaknya di lapangan,” ujar Ivonne, mengapresiasi upaya pihak kepolisian.

Ivonne Inawade berharap kasus pembunuhan keji bibinya segera terungkap, pelakunya tertangkap, dan mendapatkan hukuman yang setimpal.

“Nyawa almarhumah tante sudah melayang… ini tidak ada harganya lho… Kita bukan Tuhan yang menentukan hidup matinya seseorang. Tolong berikan keadilan untuk almarhumah tante dan keadilan untuk kami, keluarga tante yang ditinggalkan,” pungkasnya dengan nada pilu.(Als/red)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA