Jakarta, theasianet.com-Pada akhir pekan ini, wilayah ruang udara beberapa negara Timur Tengah seperti Libanon, Irak, Suriah, dan Yordania ditutup menyusul serangan udara yang dilancarkan oleh Garda Revolusi Iran ke Israel.
Dikutip dari CNN Indonesia dan Reuters, Iran telah menyampaikan peringatan kepada negara-negara lain yang memungkinkan wilayahnya digunakan Israel untuk melakukan pembalasan. Mohammad Reza Ashtiani, Menteri Pertahanan Iran, menegaskan bahwa Teheran akan merespons tegas terhadap negara yang membuka wilayah udara atau tanahnya untuk serangan Israel kepada Iran.
Stasiun berita Al Jadeed TV dari Libanon melaporkan bahwa negara tersebut telah menutup ruang udaranya seiring dengan ancaman serangan Iran ke Israel. Yordania juga melakukan hal yang sama dan telah menyiagakan pertahanan udara mereka sejak Sabtu (13/4).
Dua sumber yang bekerja pada pejabat keamanan Yordania mengungkapkan bahwa tentara mereka juga telah bersiaga dan sistem radar mereka terus memantau gerakan drone yang datang dari arah Irak dan Suriah. Yordania berbatasan dengan kedua negara tersebut serta Israel dan wilayah pendudukan di Tepi Barat.
Selain Yordania dan Libanon, Kuwait juga menutup ruang udaranya dan mengalihkan penerbangan dari wilayah yang dekat dengan zona manuver Iran ke Israel. Suriah juga menyiapkan sistem pertahanan Rusia, Pantsir, dalam menghadapi kemungkinan serangan balasan dari Israel.
Kementerian Perhubungan Irak menegaskan bahwa ruang udara mereka ditutup dan semua penerbangan tertunda sejak Sabtu. Sementara itu, beberapa sumber dari institusi pertahanan Irak menyebut bahwa beberapa drone Iran telah melintasi wilayah mereka menuju Israel.
Di lain pihak, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, melakukan pertemuan kabinet perang di markas militer di Tel Aviv pada Minggu pagi. Menurut laporan Israel, Iran telah mengirim sekitar 100 muatan bahan peledak menggunakan drone dan rudal ke wilayah target di Israel.
Detail terkait kerusakan dan korban dari serangan ini belumlah diungkap terhadap publik. Berbagai langkah peningkatan pertahanan oleh negara-negara Timur Tengah ini diharapkan dapat mengurangi risiko kerusakan dan korban lebih lanjut akibat konflik tersebut.
Sumber: CNN Indonesia
Tidak ada komentar