
IDNK, Kendari – Sebanyak 54 organisasi Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul di Universitas Halu Oleo (UHO), Kendari, dalam kegiatan Temu Wicara dan Kenal Medan (TWKM) ke-35, Kamis (22/10/2026).
Forum yang diikuti sekitar 150 peserta ini mengusung agenda besar kolaborasi pemuda dan industri untuk mendorong pembangunan berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045.Kegiatan yang dipusatkan di Kampus Pascasarjana UHO tersebut diselenggarakan oleh Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Halu Oleo (Mahacala UHO) sebagai tuan rumah dengan tema “Hilirisasi Hijau: Kolaborasi Pemuda dan Industri Menuju Indonesia Emas 2045”.
Wakil Rektor UHO, Prof. Laode Santiaji Bande, yang mewakili Rektor UHO, secara resmi membuka kegiatan tersebut. Dalam sambutannya, ia menegaskan TWKM menjadi ruang strategis bagi mahasiswa pencinta alam untuk melahirkan gagasan solutif dalam menghadapi tantangan lingkungan di tengah percepatan pembangunan industri.
“Organisasi Mapala merupakan laboratorium kepemimpinan yang membentuk kedisiplinan, solidaritas, kemampuan mengelola risiko, serta mengambil keputusan dalam situasi penuh tantangan,” ungkap Santiaji.
Ia juga mengingatkan bahwa hilirisasi industri yang tengah didorong pemerintah harus tetap memperhatikan keberlanjutan ekosistem, keselamatan sosial, dan kepentingan generasi mendatang.Karena itu, mahasiswa pencinta alam diharapkan tidak hanya aktif dalam kegiatan petualangan, tetapi juga menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan kajian lingkungan agar mampu memberikan kontribusi nyata dalam pembangunan.
Santiaji turut mendorong peserta memanfaatkan kegiatan kenal medan untuk memetakan potensi dan ancaman ekologis di Sulawesi Tenggara. Ia juga mengingatkan agar peserta mampu menyeimbangkan aktivitas organisasi dengan pendidikan akademik.
Kepala BKSDA DKI Jakarta, Darman, yang hadir mewakili penasihat utama Menteri Kehutanan, turut menyampaikan dukungan terhadap penyelenggaraan TWKM di Kendari. Ia menilai mahasiswa pencinta alam dapat menjadi agen perubahan yang menyebarkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.
“Upaya konservasi perlu berjalan beriringan dengan pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan. Dengan memanfaatkan secara lestari, masyarakat akan mendapatkan manfaat dari menjaga kawasan hutan,” ujarnya.
Ketua Umum Mahacala UHO, Ika Amalia, berharap forum TWKM ke-35 menghasilkan rekomendasi konkret berupa Manifesto Hijau 2045 yang dapat disampaikan kepada pemerintah.“Kami mengajak seluruh peserta untuk berdiskusi, bertukar pengalaman, dan merumuskan langkah bersama dalam memperjuangkan keadilan ekonomi dan ekologi,” kata Ika.
Rencananya TWKM ke-35 Mahacala UHO akan menggelar sejumlah agenda kegiatan, yakni Temu wicara di Kota Kendari, Kenal Medan Gunung Hutan di Pegunungan Verbek Puncak Mekongga Kabupaten Kolaka Utara, Tebing Di Konawe Utara dan Kenal Medan Diving di Kabupaten Wakatobi.(Red)






Tinggalkan Balasan