IDNK, Kendari – Dugaan kasus kekerasan seksual mencoreng dunia pendidikan di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Seorang oknum guru berinisial I di SMK Negeri 4 Kendari dilaporkan diduga melakukan pelecehan seksual terhadap belasan siswinya sendiri. Untuk membungkam aksi bejat tersebut, terduga pelaku kerap menakut-nakuti korban dengan ancaman nilai rendah.

Aksi tak terpuji itu terungkap setelah para korban yang berasal dari dua kelas berbeda di jurusan yang sama memberanikan diri bersuara. Berdasarkan pengakuan siswi, aksi pelecehan terjadi secara berulang saat proses belajar mengajar di dalam kelas maupun kegiatan belajar kelompok di laboratorium.

Awalnya, para korban menganggap sentuhan fisik pada bagian sensitif tersebut terjadi tanpa sengaja. Namun, karena tindakan tersebut terus berulang dan menyasar banyak murid, mereka menyadari bahwa perbuatan guru tersebut berada di luar batas kewajaran.

“Pertama mungkin dianggap tidak sengaja, tapi lama-kelamaan tidak mungkin, karena terjadi berulang kali dan korbannya bukan cuma satu orang,” ungkap para korban.

Setelah saling mengonfirmasi antar-kelas, para siswi mendapati ada 13 orang yang menjadi korban pelecehan oknum guru tersebut. Dari total murid di satu kelas, hanya empat orang yang tidak tersentuh.

Para korban mengaku telah lama ingin membongkar perbuatan sang guru. Namun, mereka terhalang oleh intimidasi yang terus-menerus dilancarkan terduga pelaku menggunakan modus nilai akademik.

“Setiap minggu dia masuk mengajar pasti ada yang kena. Tapi kalau ada gerak-gerik kami yang mencurigakan, dia langsung sangkut pautkan dengan nilai. Dia bilang, ‘tunggulah nilai kalian’,” kata salah seorang korban.

Karena sudah tidak tahan, belasan siswi akhirnya melaporkan kejadian ini kepada Kepala SMK Negeri 4 Kendari, Herman. Pengakuan para korban di hadapan kepala sekolah sempat direkam diam-diam dalam dua potongan video berdurasi 8 menit dan 1 menit. Dalam rekaman tersebut, kepala sekolah sempat menjamin bahwa laporan ini tidak akan memengaruhi nilai akademik mereka.

Namun, kekecewaan justru berlanjut. Pihak sekolah diduga berupaya menutupi kasus ini demi menjaga nama baik institusi. Para siswi dilarang melaporkan kejadian tersebut kepada orang tua mereka maupun mengunggahnya ke media sosial. Bahkan, guru Bimbingan Konseling (BK) turut menegur siswa agar menghapus unggahan terkait kasus ini di media sosial.

Sikap pihak sekolah kian menyulut kemarahan keluarga korban. Salah satu wali murid mengecam pernyataan kepala sekolah yang dinilai menyepelekan kasus tersebut hanya karena tindakan pelecehan dilakukan di depan umum saat jam pelajaran.

“Kepala sekolah bilang kalau pelecehan itu harusnya terjadi dua orang di dalam ruangan tertutup. Ini sakit, gila,” kecam salah satu wali siswi. Kemarahan itu sempat memicu insiden di mana seorang orang tua siswa membanting pintu sekolah hingga rusak saat menuntut klarifikasi.

Upaya mediasi yang digagas pihak sekolah dengan mempertemukan korban dan terduga pelaku justru menambah trauma emosional bagi para siswi. Korban berinisial Z mengaku sangat trauma saat dipaksa melihat kembali sosok guru tersebut dalam ruang mediasi.

Z menolak keras opsi ganti rugi berupa uang maupun penyelesaian secara kekeluargaan. Ia mendesak agar terduga pelaku dipecat secara tidak hormat dan diproses secara hukum.

“Saya mau kasus ini berlanjut ke proses hukum. Trauma ini tidak bisa dipulihkan hanya dengan uang,” tegas Z.

Hingga berita ini diturunkan, Kepala SMKN 4 Kendari, Herman, belum memberikan tanggapan resmi. Pesan singkat yang dikirimkan awak media melalui WhatsApp sejak Rabu (30/9/2026) tidak mendapatkan respons.(Red)