Gelembung Lumpur Misterius Muncul di Sawah Konawe, Diduga Dipicu Gas Alam

waktu baca 2 menit
Jumat, 30 Jan 2026 10:42 168 IDNKendari.com

IDNK, KENDARI – Warga Desa Awua Jaya, Kecamatan Asinua (Asinua Tua), Kabupaten Konawe, dibuat penasaran dengan kemunculan fenomena alam tak biasa di area persawahan setempat, Kamis (29/1/2026).

Di tengah hamparan sawah, tampak gelembung-gelembung lumpur terus bermunculan dari dalam tanah. Gerakan gelembung tersebut membuat air di sekitarnya beriak, sekilas menyerupai air mendidih. Namun, ketika disentuh, lumpur justru terasa dingin dan tidak mengeluarkan bau menyengat.

Pantauan di lokasi menunjukkan, gelembung lumpur muncul secara stabil dari satu titik dengan ukuran kecil hingga sedang. Meski terlihat aktif, fenomena tersebut tidak menimbulkan panas, suara letupan, maupun gangguan terhadap lahan pertanian di sekitarnya.

Fenomena unik ini berada di sawah milik seorang warga bernama Samsul Alam. Hingga kini, kemunculan gelembung hanya terpusat di satu lokasi dan belum menunjukkan tanda-tanda menyebar ke petak sawah lainnya.

Meski kembali menarik perhatian publik setelah terekam dalam kegiatan survei rutin, warga setempat mengungkapkan bahwa kejadian tersebut bukan hal baru. Salah satunya disampaikan Rohidin, Mitra Badan Pusat Statistik (BPS) Konawe, yang kerap melakukan pemantauan Kerangka Sampel Area (KSA) di wilayah tersebut.

Rohidin menyebut, gelembung lumpur itu telah ia temui sejak pertama kali melakukan pendataan pada 2019. Setiap kunjungan bulanan untuk pengambilan sampel foto dan pelaporan data melalui aplikasi KSA, kondisi fenomena tersebut relatif tidak berubah.

“Sejak 2019 saya sudah melihat gelembung ini. Setiap bulan saat pendataan, kondisinya tetap muncul seperti sekarang,” ungkapnya dikutip Konaweinfo.

Ia menjelaskan, kuat atau lemahnya gelembung sangat dipengaruhi oleh ketinggian air sawah. Saat debit air meningkat, aktivitas gelembung tampak lebih jelas dan aktif. Sebaliknya, ketika air surut, gelembung cenderung mengecil meski tetap muncul.

“Saat air banyak, gelembungnya terlihat lebih kuat. Kalau air berkurang, aktivitasnya melemah, tapi tidak hilang,” jelas Rohidin.

Lebih lanjut, ia memastikan suhu air dan lumpur di sekitar titik kemunculan terpantau normal dan cenderung dingin. Hingga kini, belum ada indikasi aktivitas panas bumi atau geotermal di kawasan tersebut, sehingga fenomena itu diduga berkaitan dengan gas alam dari dalam tanah.

Warga setempat memilih membiarkan fenomena tersebut berlangsung secara alami karena tidak mengganggu aktivitas pertanian. Meski demikian, masyarakat tetap diimbau untuk berhati-hati dan menghindari tindakan berisiko di sekitar lokasi, seperti menyalakan api atau mencoba menutup lubang gelembung secara paksa.(red)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA