Oleh: Fahmi Firdaus, S. Psi
Ketua Bidang Lingkungan Hidup PW Hima Persis Jawa Barat
Setiap tahun pada tanggal 21 November dunia memperingati Hari Pohon Sedunia.Momen yang dicanangkan oleh Badan Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) ini bukan sekadarritual simbolis, melainkan pengingat kolektif akan peran vital pohon sebagai paru-paru duniadan penopang kehidupan.
Dalam konteks kekinian, dimana ancaman krisis iklim semakinnyata, makna peringatan ini menjadi lebih dalam dan mendesak untuk dijawab dengan aksinyata.
Berdasarkan data terbaru dari World Resources Institute (WRI) melalui platformGlobal Forest Watch, pada tahun 2023, dunia kehilangan 3,7 juta hektar hutan hujantropis primer.
Sementara itu, State of the World’s Trees Report mengungkapkan bahwahampir 30% spesies pohon di dunia terancam punah. Di tingkat nasional, KementerianLingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia mencatat laju deforestasinetto Indonesia periode 2019-2023 rata-rata turun menjadi 86.000 hektar per tahun.
Capaian ini patut diapresiasi, namun tidak lantas membuat kita berpuas diri. Tekananterhadap hutan dan tutupan hijau akibat alih fungsi lahan dan perubahan iklim masih sangatbesar.
Data-data ini menyiratkan pesan yang jelas: setiap tindakan menanam dan merawatpohon adalah kontribusi nyata dalam memulihkan bumi, menjaga keseimbangan ekosistem,dan menjamin ketersediaan air serta udara bersih untuk generasi mendatang.
Ajarankearifan lokal Sunda telah lama menempatkan pohon dan hutan dalam posisi yang sangatmulia. Falsafah “Leuweung Ruksak, Cai Beak, Manusa Balangsak” (Hutan Rusak, Air Habis,Manusia Sengsara) adalah sebuah ramalan sekaligus peringatan yang sangat visioner.Falsafah ini menggambarkan hubungan sebab-akibat yang tak terelakkan antara kelestarianalam dan kesejahteraan manusia.
Kearifan Sunda melihat hutan (leuweung) bukan sebagai barang bebas yang bisadieksploitasi, melainkan sebagai entitas hidup yang memiliki karuhun (nenek moyang) yangharus dihormati. Konsep “Leuweung Larangan” atau “Leuweung Tutupan” adalah bentuknyata dari konservasi berbasis kearifan lokal, dimana hutan dilindungi secara turun-temurununtuk menjaga sumber mata air dan keseimbangan lingkungan. Menanam pohon, dalam perspektif ini, adalah wujud dari “ngamumulé” (melestarikan) dan “ngabakti” (berbakti) kepada bumi (Ibu Pertiwi).
Ini adalah tindakan mengamalkan ajaranleluhur untuk mencegah terwujudnya kesengsaraan yang diramalkan tersebut.
Selaras dengan semangat Hari Pohon Sedunia dan diilhami oleh kearifan lokal Sunda,PW Hima Persis Jawa Barat akan mewujudkan komitmen ini dalam aksi nyata. Dalam waktudekat, kami akan melangsungkan kegiatan penanaman Pohon di Pondok Pesantren Peradaban Al Amin, Kec. Pameungpeuk, Kabupaten Garut.
Pemilihan lokasi di pesantren memiliki makna strategis. Pesantren sebagai center ofexcellence peradaban Islam, dipadukan dengan nilai kearifan Sunda menjadi tempat yangideal untuk menanamkan kesadaran ekologis kepada santri dan masyarakat.
Kegiatan ini tidak hanya bertujuan untuk menghijaukan lingkungan, tetapi juga untuk:
1. Pendidikan Lingkungan: Menanamkan nilai cinta lingkungan kepada para santri sebagaigenerasi penerus.
2. Aksi Iklim: Berkontribusi langsung dalam penyerapan karbon dan pelestarian sumber dayaair di wilayah Garut Selatan.
3. Revitalisasi Budaya: Menghidupkan kembali ajaran Sunda tentang pentingnya menjagakelestarian alam.
Kami mengajak seluruh elemen masyarakat, para pemuda, dan pemerhati lingkunganuntuk bersama-sama mendukung gerakan ini. Mari jadikan momen Hari Pohon Sedunia tahun ini sebagai titik tolak untuk memperkuat komitmen kita dalam merawat bumi warisanleluhur untuk anak cucu kita.
Hari Pohon Sedunia mengingatkan kita pada tanggung jawab global. Falsafah Sunda mengajarkan kita pada kearifan lokal. Keduanya bertemu dalam satu pesan universal:”Menanam pohon adalah menanam kehidupan.” Aksi kecil kita hari ini, jika dilakukan secara kolektif, akan menumbuhkan harapan untuk bumi yang lebih lestari dan manusia yang terhindar dari kesengsaraan.
Mari Tanam, Mari Jaga, Untuk Bumi yang Lebih Hijau!
Tidak ada komentar