Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara dan BPJS Kesehatan menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) terkait dukungan Universal Health Coverage (UHC) dan pembiayaan layanan kesehatan. Theasianet.com, Kendari–Kabar melegakan datang bagi masyarakat Sulawesi Tenggara (Sultra). Terhitung mulai 1 Desember 2025, Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Oputa Yi Koo resmi membuka layanan bagi pasien pengguna BPJS Kesehatan.
Kepastian ini diperoleh setelah Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara dan BPJS Kesehatan menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) terkait dukungan Universal Health Coverage (UHC) dan pembiayaan layanan kesehatan, yang berlangsung di Kendari, Jumat (21/11/2025).
Gubernur Sulawesi Tenggara menyebut kerja sama ini sebagai terobosan sangat penting demi menjamin pemerataan akses kesehatan di Bumi Anoa. Menurutnya, fasilitas kesehatan canggih tidak boleh hanya dinikmati segelintir kalangan.
“Saya menyambut baik kerja sama ini sebagai langkah strategis. Tujuannya jelas, yakni mempermudah akses masyarakat memperoleh pelayanan di RS Oputa Yi Koo sekaligus meningkatkan cakupan kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Sultra,” tegas Gubernur.
RS Oputa Yi Koo sendiri diproyeksikan menjadi mercusuar kesehatan baru di Kawasan Timur Indonesia. Dengan komposisi 60 persen layanan khusus (jantung dan pembuluh darah) serta 40 persen layanan umum, rumah sakit ini memiliki layanan unggulan yang mencakup penanganan jantung, stroke, hingga uronefrologi.
Fasilitas yang dimiliki pun berstandar tinggi, salah satunya teknologi Cathlab Hybrid yang mampu menangani bedah jantung dan saraf kompleks. Rekam jejak medis rumah sakit ini kian solid setelah sukses melakukan operasi jantung perdana pada November 2024, hasil kolaborasi dengan RS Jantung Harapan Kita lewat program pengampuan SIHREN.
Direktur RS Jantung dan Pembuluh Darah Oputa Yi Koo, dr. Sukirnan, memastikan pihaknya telah mematangkan persiapan—baik sarana, prasarana, maupun sumber daya manusia (SDM)—guna memenuhi standar ketat BPJS Kesehatan.
“Kami terus memaksimalkan sistem aplikasi pelayanan agar peserta BPJS mendapatkan layanan yang cepat, tepat, dan manusiawi. Target kami bukan hanya mengobati fisik, tetapi memberikan perawatan menyeluruh secara psikologis,” ujar Sukirnan.
Ia menambahkan, kehadiran BPJS menjadi solusi atas kendala biaya yang kerap menghantui pasien penyakit jantung.
“Ini terobosan besar. Masyarakat kini bisa mendapat layanan spesialis tanpa terbebani biaya besar,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala BPJS Kesehatan Cabang Kendari, Rinaldi Wibisono, menekankan bahwa kerja sama ini harus diiringi dengan peningkatan mutu. Mengingat cakupan kepesertaan JKN di Sultra telah mencapai angka fantastis 100,49 persen dari total penduduk, tantangan selanjutnya adalah kualitas pelayanan di fasilitas kesehatan.
“Keberhasilan JKN membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Kami berharap RS Oputa Yi Koo dapat menjadi role model layanan kesehatan jantung berbasis JKN di kawasan timur Indonesia,” kata Rinaldi.
BPJS Kesehatan juga berkomitmen memperkuat asistensi digitalisasi layanan guna memastikan proses rujukan hingga tindakan medis berjalan tanpa hambatan administrasi.
Dalam kesempatan yang sama, turut ditandatangani perpanjangan MoU UHC untuk tahun 2026. Langkah ini memastikan keberlanjutan jaminan kesehatan bagi seluruh warga Sultra agar tercipta layanan kesehatan yang adil, inklusif, dan merata dari kota hingga pelosok desa.
(als/red)
Tidak ada komentar