IDNK, Kendari -Chairman of the Board of Trustees (Ketua Dewan Pengawas / Pembina) di Indonesian Business Council (IBC) Arsjad Rasjid menyampaikan Pemaparan khusus secara daring pada pembukaan Temu Wicara dan Kenal Medan (TWKM) XXXV Mahasiswa Pecinta Alam se-Indonesia di kota Kendari.

Dalam pesannya, Dia mengapresiasi Mahacala UHO sebagai tuan rumah dan mendorong Mapala untuk terus menjadi penjaga alam sekaligus agen perubahan menuju Indonesia Emas 2045.

Arsjad berbagi cerita transformasi pribadi selama lebih dari 20 tahun memimpin perusahaan energi, termasuk pertambangan batu bara.

“Saya tertampar satu artikel yang ditunjukkan putri saya. Judulnya _One Hundred Killers of The World_. Di situ ada nama saya dan perusahaan yang saya pimpin. Itu jadi wake up call bagi saya untuk beralih ke bisnis yang lebih hijau dan berkelanjutan,” ujarnya.

Ia menegaskan komitmen Indonesia untuk mencapai _net zero emission_ pada 2060 atau lebih cepat. Menurutnya, hal ini membuka peluang besar _green business_ dan _green jobs_ bagi anak muda, termasuk mahasiswa pecinta alam.

Contohnya adalah ekosistem motor listrik nasional yang terhubung dengan hilirisasi nikel untuk baterai kendaraan listrik.

Arsjad Rasjid juga menyoroti isu hilirisasi di Sulawesi Tenggara sebagai salah satu penghasil nikel terbesar.

Ia memahami kekhawatiran Mapala terkait lubang tambang, hilangnya hutan, dan dampak sosial jika tidak dikelola dengan baik.

“Tantangannya, smelter harus beralih ke energi bersih, reklamasi harus sungguh-sungguh, dan tata kelola harus transparan. Sementara Peluangnya, pasar global kini menghargai produk yang hijau dan bisa ditelusuri asal-usulnya. Nikel yang diolah secara bertanggung jawab akan jadi keunggulan daya saing Indonesia,” jelasnya.

Agenda hilirisasi ini disebutnya dapat mempercepat target _net zero_ sekaligus menjadi motor pertumbuhan ekonomi menuju Indonesia Emas 2045, dengan catatan harus inklusif dan sesuai prinsip ESG.

Di akhir sambutan, Arsjad meminta Mapala untuk tetap kritis dan merumuskan solusi konkret.
“Saya menantikan _Manifesto Hijau 2045_ yang teman-teman rumuskan. Perspektif teman-teman mengenai standar industri hijau yang ideal dapat menjadi pedoman bagi pemerintah dan dunia usaha,” ucapnya.

Ia juga mendorong Mapala mempersiapkan diri mengisi _green jobs_ masa depan seperti ahli reklamasi, pemantau keanekaragaman hayati, auditor ESG, hingga insinyur energi terbarukan.

“Indonesia Emas 2045 akan dipimpin generasi teman-teman dan saya percaya alamnya juga akan dijaga oleh generasi teman-teman. Teruslah berkarya, jaga alam Indonesia. Salam Lestari,” tutupnya.(Red)