
Banyuwangi, THEASIANET.COM-Kandidat presiden Anies Baswedan nomor urut 1 menyebut program food estate pemerintah di Kalimantan gagal karena mengabaikan kebutuhan masyarakat setempat dan mengabaikan kesesuaian tanaman.
Food estate kita di Kalimantan akhirnya menanam singkong, dan gagal, kata Anies pada acara kampanye di Tanah Datar, Sumatera Barat, Rabu, (3/1/2024)
Anies mengatakan sebagian besar dana program food estate disalurkan ke perusahaan-perusahaan besar, namun seharusnya disalurkan ke petani lokal, karena merekalah yang memahami dan berpengalaman menanam tanaman untuk pangan masyarakat setempat. Mereka juga dapat menggunakan dana tambahan tersebut untuk meningkatkan kualitas tanaman.
“Anggaran yang sama akan jauh lebih optimal jika diberikan kepada petani untuk mendapatkan pupuk yang terjangkau. Pupuk yang terjangkau, irigasi yang lebih baik, dan sistem tata niaga yang lebih baik,” ujarnya
Secara terpisah, saat melakukan kampanye di Pangalengan, Jawa Barat, Anies menyarankan agar food estate menggunakan model contract farming. Jika ia menjadi presiden, ia berjanji akan mengubah peraturan mengenai cara pemerintah mengelola perdagangan pangan, dan bahwa pemerintahannya akan berusaha menarik lebih banyak investasi ke daerah-daerah yang memudahkan masyarakat mendapatkan pekerjaan.
Presiden Joko Jokowi Widodo meluncurkan program food estate pada tahun 2020 dan menunjuk Menteri Pertahanan Prabowo Subianto sebagai manajer utamanya, yang saat ini sedang bersaing untuk terpilih sebagai penggantinya.
Program tersebut merupakan bagian dari Program Strategis Nasional 2020-2024 dan bertujuan untuk mengintegrasikan produksi pangan dalam negeri.
Tanaman yang ditanam seperti cabai, padi, singkong, jagung, kacang tanah, dan kentang telah diterapkan di Sumatera Utara, Kalimantan Tengah, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Papua.
Program ini fokus pada budidaya tanaman tertentu yang sesuai dengan wilayah tertentu, misalnya padi dan jagung di Sumba Tengah, NTT.*
Tidak ada komentar