IDNK, KENDARI – Kinerja industri jasa keuangan di Sulawesi Tenggara (Sultra) hingga awal 2026 menunjukkan tren pertumbuhan yang positif. Hal ini terungkap dalam kegiatan Bincang Jasa Keuangan (BIJAK) yang dipaparkan Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sultra, Bismi Maulana Nugraha, pada 5 Maret 2026.

Berdasarkan data OJK, sektor perbankan di Sultra masih mencatatkan pertumbuhan yang cukup solid. Total aset perbankan pada Januari 2026 mencapai Rp61,68 triliun, tumbuh 6,5 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat sebesar Rp33,64 triliun, meningkat 5,9 persen (yoy). Adapun penyaluran kredit mencapai Rp42,59 triliun atau tumbuh 5,1 persen (yoy).

OJK mencatat rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) berada pada level 2,10 persen, masih di bawah ambang batas yang ditetapkan regulator. Likuiditas perbankan juga menunjukkan perbaikan dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) berada pada posisi 126,59 persen.

Dari sisi komposisi DPK, tabungan masih mendominasi dengan porsi 65,3 persen, disusul deposito 16 persen dan giro 18,7 persen. Distribusi DPK masih terkonsentrasi di Kota Kendari dengan nilai sekitar Rp20,46 triliun, menunjukkan adanya kesenjangan inklusi keuangan dibandingkan wilayah kabupaten lainnya.

Di sisi penyaluran kredit, pembiayaan terbesar masih didominasi sektor bukan lapangan usaha lainnya sebesar 70,53 persen, diikuti sektor perdagangan 11,36 persen, pertanian 8,47 persen, konstruksi 4,01 persen, dan sektor lainnya 2,67 persen.

Penyaluran kredit juga terkonsentrasi di Kota Kendari dengan total mencapai Rp24,41 triliun. Sementara tekanan kualitas kredit tercatat paling tinggi di Kota Baubau (NPL 2,94 persen) dan Kabupaten Muna (2,82 persen), meski masih berada di bawah batas aman yang ditetapkan regulator.

Pada sektor UMKM, total kredit yang disalurkan mencapai Rp15,27 triliun atau tumbuh 4,73 persen (yoy) dengan porsi 35,29 persen dari total kredit perbankan. Namun demikian, komposisi kredit masih didominasi kredit konsumsi sebesar 57,30 persen, sedangkan kredit modal kerja 26,13 persen dan investasi 16,57 persen.

Selain perbankan, perkembangan pasar modal di Sultra juga menunjukkan peningkatan signifikan. Jumlah investor yang tercatat dalam Single Investor Identification (SID) mencapai 123.794 investor per Desember 2025, tumbuh 44,96 persen (yoy).

Reksa dana menjadi instrumen investasi yang paling diminati masyarakat dengan pangsa 70,13 persen, diikuti saham 28,07 persen dan surat berharga negara 1,81 persen.

Nilai transaksi saham di Sultra juga melonjak signifikan menjadi Rp608,11 miliar pada 2025 atau tumbuh 155,89 persen, dengan frekuensi transaksi mencapai 183.831 transaksi.

Sementara itu, pada sektor Industri Keuangan Non Bank (IKNB), perusahaan pembiayaan mencatatkan piutang sebesar Rp6,86 triliun dengan rasio kredit bermasalah 2,30 persen. Pinjaman fintech lending juga tumbuh 28,44 persen menjadi Rp804,6 miliar dengan tingkat wanprestasi 1,48 persen.

Dalam aspek perlindungan konsumen, OJK Sultra menerima 1.713 pengaduan masyarakat, dengan sektor perbankan menjadi penyumbang terbesar sebanyak 682 laporan, disusul perusahaan pembiayaan 540 laporan dan fintech 268 laporan.

Selain itu, melalui Indonesia Anti Scam Centre (IASC), tercatat 1.460 laporan penipuan transaksi keuangan di Sultra dengan total kerugian masyarakat mencapai sekitar Rp21,8 miliar. Kota Kendari menjadi daerah dengan jumlah laporan tertinggi.

Di sisi edukasi, OJK Sultra telah melaksanakan 378 kegiatan literasi keuangan dengan total peserta mencapai 210.134 orang di seluruh kabupaten/kota.

Ke depan, OJK Sultra menargetkan peningkatan literasi keuangan kepada 160.000 peserta sepanjang 2026 melalui berbagai program edukasi, penguatan inklusi keuangan, serta pengembangan ekonomi daerah.

Program tersebut diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap layanan keuangan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang lebih inklusif.(RED)