Pengungsi Rohingya di desak naik ke atas truck agar dipindahkan dari pengungsian sementara BMA ke kantor Kemenkumham Aceh.
Banda Aceh, THEASIANET.COM-Aksi usir paksa pengungsi etnis Rohingya yang di lakukan sejumlah mahasiswa di Gedung Balee Meuseuraya Aceh (BMA) pada Rabu (27/12) lalu, membuai pro dan kontra. Aksi yang dilakukan sejumlah mahasiswa itu dinilai terlalu arogansi dan mengedepankan tindakan kekerasan.
BEM Universitas Syiah Kuala (USK) dan UIN Ar-Raniry pun memberikan tanggapannya terkait aksi sejumlah mahasiswa itu. Kedua BEM Universitas yang ada di Banda Aceh itu menilai aksi usir paksa dengan mengedepankan tindak kekerasan terhadap kaum marginal tidak mewakili mahasiswa secara keseluruhan di Aceh.
“Tentu kita sangat menyayangkan hal seperti itu terjadi dan tidak sepatutnya kita menindas mereka (Rohingya). Seharusnya yang ditekan itu pihak pemerintah agar memberikan solusi konkrit terkait persoalan rohingya ini,” kata Presiden Mahasiswa UIN Ar-Raniry, Ilham Rizky Maulana seperti yang di kutip dari CNNIndonesia.com, Sabtu (30/12).
Meski begitu, dirinya pun tak menampik tetap mendukung aksi penolakan terhadap kedatangan para imigran Rohingya di Aceh, namun ia menilai ada hal-hal yang harus dikedepankan seperti aspek-aspek kemanusiaan da aspek aksi damai.
Menurutnya, aksi penolakan itu seharusnya di tujukan kepada pemerintah atau lembaga-lembaga terkait yang menangani Rohingya.
“Seharusnya penolakan itu ditujukan kepada pemerintah atau lembaga yang mengurusi Rohingya, hal ini memang bisa kita lihat bagai buah simalakama, yang pertama kita menerimanya tapi akan berdampak, seperti berbicara tatanan sosial yang di khawatirkan masyarakat, namun jika kita tidak menerima ini juga berdampak pada moral kita sebagai manusia,”Tutupnya.*
(Arg/am)
Tidak ada komentar